DEBU DEBU RIBA

DEBU DEBU RIBA
oleh: M. Ahda Alfityan

Jika ada debu yang tidak bisa dijadikan untuk bersuci, itulah debu riba.Hidup dalam sistem kapitalisme seperti di negeri ini, debu debu itu tak terasa ada di setiap sendi kehidupan kita. Di pakaian yang sering kita kenakan untuk sehari hari, hingga untuk pergi berhaji debu itu ikut menemani. Pernahkah kita menyadari bentuk pakaian itu tidak hanya kain yang dijahit,melainkan secara majasi bisa merupakan setiap sesuatu yang dipakai untuk kehidupan.

Riba dalam ranah muamalah, adalah sesuatu yang sifatnya konpensasi yang diperoleh tanpa harus mencurahkan tenaga sedikitpun.Sesuatu yang pasti untung dan tidak mau rugi dari harta yang disertakannya. Ini jelas bertentangan dengan kaidah “_al gharam bi al ghanam” (kerugian itu berdampingan dengan keuntungan).(Syaikh Taqiyuddin an Nabhani,buku Sistem Ekonomi Islam hal 252).

Bila bercermin dari kehidupan kita sehari hari,mulai dari makanan yang tersaji di meja makan hingga kendaraan yang digunakan untuk beraktifitas debu riba itu ada,meskipun kadang tidak kasat mata. Nasi yang kita makan boleh jadi hasil riba ketika dibeli dari uang pinjaman yang ada bunganya. Pun kendaraan bisa jadi buah riba ketika didapat dengan cara leasing, yang tidak bisa membedakan antara akad sewa atau pinjam.Ada riba, meskipun mereka menamakannya dengan nama yang indah bunga nol persen sekalipun.

Bunga, nyatanya tak seindah namanya, sakitnya tuh di riba. Karena seringan-ringannya dosa riba adalah seperti anak menzinai ibu kandungnya sendiri.”Riba itu ada 73 pintu (dosa). Yang paling ringan adalah semisal dosa seseorang yang menzinai ibu kandungnya sendiri. Sedangkan riba yang paling besar adalah apabila seseorang melanggar kehormatan saudaranya.”(_HR Al Hakim dan Al Baihaqi).

Yuk, hidup bahagia tanpa riba hanya dengan menerapkan aturan Islam dalam kehidupan.Wallahu alam.